Gunakanlah Kunci yang Sesuai

Kemarin aku dan partnerku berencana untuk nglembur penelitian. Kami sampai di kampus sekitar pukul 21.00 WIB. Tidak lama setelah sampai di tempat ngelab, datanglah pak satpam.
Dengan ekspresi yang datar dan terkesan seperti sedang memberi ‘ultimatum’, bapak satpam itu berkata pada kami: “Mbak, saya pesan ya, ini nanti kalau ditinggal2 jangan lupa dikunci ya.. Soalnya kemarin ada yang kehilangan laptop sama handphone”
Kami: “Ooo… iya Pak”
Pak Satpam kembali menegaskan untuk mengunci pintu dan berkata: “soalnya kemarin yang kehilangan jam setengah empat pagi mba..” dengan kata lain pencurinya sudah ada di gedung, setidaknya sebelum pintu lobi dikunci.

Karena pingin nyari amannya dan sedikit termakan (baca: takut) dengan omongan bapaknya, akhirnya aku berusaha mencari kunci Ruang Internet (tempat yang biasa kami pakai untuk istirahat dan meletakkan barang bawaan), tapi ternyata tidak ada. Lalu aku mengmbil kunci yang ada di ruang diskusi dan mencobanya di pintu ruang internet, siapa tahu kuncinya sama-pikirku. Ketika itu kalau tidak salah partnerku sedang ‘sibuk’ menyalakan computer.

Setelah mencoba beberapa kali, ternyata kunci ruang diskusi tersebut bisa digunakan untuk mengunci ruang computer. Lalu dengan bahagia dan bangganya aku bersorak: “Horee.. bisa kekunci!!”
Namun ternyata kebahagiaan itu menghilang seketika setelah kusadari bahwa pintu itu terkunci dan tidak bisa kubuka.. (mulai panikk). Kupanggil partnerku, siapa tahu dia bisa membukanya… dan hasilnya nihil.

Menit demi menit telah berganti, antara rasa geli, pingin ketawa, sedih karena kalau terkunci berarti kami nggak bisa ngelab, bingung, dan takut nggak bisa keluar berbaur menjadi satu.  Akhirnya kami menyerah..

Alhamdulillah waktu itu ada teman kami yang juga menginap di lab lain dan ada juga yang waktu itu belum pulang. Akhirnya aku menghubungi teman perempuan kami yang juga sedang ngelab, namun ternyata nomornya tidak aktif. Sms ke teman laki-laki kami yang belum pulang, tapi pending. Karena kalau sms rentan telat dibaca, akhirnya aku menelpon teman laki2 kami yang lain yang saat itu juga masih ada di kampus, kami meminta dia untuk ke TKP dan membukakan pintu tersebut (berharap tenaga laki2 lebih kuat daripada kami).

Dua orang teman kami pun akhirnya datang, sedikit heran “kok bisa terkunci padahal kuncinya kita yang bawa -__-”. Mereka mencoba untuk membuka pintu dengan kunci tersebut. Sudah berkali-kali dicoba, tetap pintu tersebut tidak mau terbuka. Teman kami masih terus berusaha membuka pintu tersebut sambil memberi ‘wejangan’, sedangkan teman kami yang satunya lagi berusaha untuk menelpon satpam, siapa tahu bisa membukakan atau punya kunci cadangannya.

Rasanya maluuuu banget, niatnya cari aman, ehhh..malah kekunci sendiri..huhuhu.
Akhirnya,,, Alhamdulillah pintu tersebut dapat terbuka, sambil dengan nada mengancam teman kami berkata: “Lain kali kalau bukan kuncinya JANGAN dipakai!!”

Hihihi.. Alhamdulillah akhirnya kami bisa keluar dari ‘bilik’ tersebut… What a shame.. :’(
Selalu ada adaaaaa aja tiap kali mau ngelab… ckckckck
Ini kisahku, kisahmu?? 😀

Selesai ditulis Kamis, 7 Februari 2013 di Perpustakaan Fakultas Teknologi Pertanian UGM pukul 10.26 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *