Review: NUTRIENT RECOMMENDATION, FORMULATION, AND DIETARY ‎GIUIDELINES FOR SINGLE ELDERLY WOMAN

  1. I.                   Pendahuluan

Lansia atau lanjut usia adalah sebuah periode di mana seseorang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Pada periode ini akan terjadi proses berkurangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga kurang dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki diri. Oleh sebab itu, di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut dengan penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif inilah yang sering membayangi kehidupan para lansia terutama di Indonesia.

Asupan gizi yang memadai penting untuk kesehatan, terutama bagi lansia. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari satu sampai tiga pasien lansia menderita kekurangan gizi, hal ini disebabkan karena banyak faktor, namun penyebab utamanya adalah penyakit kronis dan gejala degeneratif lainnya.

Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada lansia:

  1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.
  2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
  3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
  4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
  5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
  6. Penyerapan makanan di usus menurun.

Adapun masalah gizi pada lansia, antara lain:

  1. Gizi berlebih

Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalagi pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.

  1. Gizi kurang

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah sosial ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.

  1. Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

  1. II.                Aspek Kebutuhan Gizi pada Lansia

Masalah gizi yang dihadapi lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas fisiologis tubuhnya. Konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisi lansia yang secara alami memang sudah menurun. Dibandingkan dengan usia dewasa, kebutuhan gizi lansia umumnya lebih rendah karena adanya penurunnan metabolisme basal dan kemunduran lain seperti diuraikan di atas. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989) telah membuat angka kecukupan energi dan zat gizi yang dianjurkan untuk lansia dalam sehari, seperti disajikan pada Tabel 1.

Kalori

Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15 sampai 20 persen. Hal ini terutama disebabkan berkurangnya massa otot. Disamping itu, aktivitas (kerja, olah raga) yang dilakukan oleh lanjut usia umumnya menurun.

 

Kalori (energi) diperoleh dari lemak, karbohidrat dan protein masing-masing memberikan 9,4, 4,0 dan 4,0 Kal (kilo-kalori) per gramnya. Bagi lansia komposisi energi sebaiknya 20 – 25 persen berasal dari protein, 20 persen berasal dari lemak dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan energi tiap orang berbeda-beda tergantung ukuran tubuh dan aktivitasnya. Umumnya orang dewasa membutuhkan sekitar 1000 sampai 2700 Kal per harinya. Sedangkan untuk lansia membutuhkan energinya yaitu 1960 Kal untuk laki-laki dan 1700 Kal untuk lansia wanita. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak, sehingga akan timbul kegemukan (obesitas), yang akan mempercepat timbulnya penyakit degeneratif. Sebaliknya bila terlalu sedikit, maka cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi kurus.

 

Protein

Kebutuhan protein bagi orang dewasa rata-rata ditetapkan sebesar 0,8 gram per kg berat badan per hari, dengan syarat nilai gizi proteinnya setara dengan telur. Umumnya bagi protein yang nilai gizinya lebih rendah dari telur, diperlukan jumlah yang lebih banyak. Untuk lebih aman, secara umum kebutuhan protein bagi orang dewasa per hari adalah 1 gram per kg berat badan.

Pada orang yang berusia lanjut, massa ototnya berkurang, sehingga total protein tubuhnya juga berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih tinggi dibanding orang dewasa. Hal ini disebabkan pada orang tua efisiensi penggunaan senyawa nitrogen (protein) oleh tubuh telah berkurang (disebabkan pencernaan dan penyerannya kurang efisien). Disamping itu, adanya stress (tekanan batin), penyakit infeksi, patah tulang dan lain lain penyakit, akan meningkatkan kebutuhan protein bagi lansia. Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 12 – 14 persen dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.

Lemak

Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30 persen atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih dari 40 persen dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosklerosis (penyumbatan pembuluh darah ke arah jantung). Juga, dianjurkan 20 persen dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated fatty acid). Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.

Karbohidrat dan Serat Makanan

Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit atau konstipasi (susah buang air besar) dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti dapat menyembukan kesulitan tersebut. Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan segar dan buji-bijian utuh. Lansia tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen serat (yang dijual secara komersial), karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat sehingga tidak dapat diserap tubuh.

Dianjurkan agar para lansia mengurangi konsumsi gula-gula sederhana (gula pasir, sirup) dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks. Karbohidrat yang berasal dari biji-bijian dan kacang-kacangan utuh selain berfungsi sebagai sumber energi, juga sebagai sumber serat.

Banyak lansia yang mengalami diare jika mengkonsumsi susu. Hal ini disebabkan dalam ususnya tidak terkandung enzim pencerna (laktosa), sehingga laktosa dicerna oleh mikroba usus besar dan menimbulkan diare. Produk-produk susu yang sudah difermentasi, misalnya yoghurt dan keju tidak dapat menimbulkan diare, karena sebagian besar laktosanya telah digunakan mikroba dalam proses fermentasi. Disamping sebagai sumber karbohidrat (laktosa) susu juga sangat penting sebagai sumber protein, vitamin dan mineral.

Vitamin dan Mineral

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya para lansia kurang mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasan, asam folat, vitamin C, D dan E. Umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya konsumsi makanan, khususnya buah-buahan dan sayuran. Sedangkan masalah kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan zat besi yang dapat menyebabkan anemia.

Kebutuhan vitamin dan meneral bagi lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang lain. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai sumber vitamin, mineral dan serat.

Air

Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang (dalam bentuk keringt dan urine), membantu pencernaan makanan dan membersihkan ginjal (membantu fungsi kerja ginjal). Orang dewasa dianjurkan minum sebanyak 2 sampai 2,5 liter per hari. Ketentuan ini berlaku pula pada lansia (minum lebih dari 6 – 8 gelas per hari).

 

  1. III.             Formulasi dan Rekomendasi Gizi pada Lansia

Dalam penentuan formulasi dan rekomendasi gizi pada lansia, khususnya wanita, digunakan jurnal sebagai bahan utama makalah ini, yaitu “Body Composition, Dietary Intake and Estimated Energy Expenditure in Female Patients on Geriatric Rehabilitation Wards”.

Dalam jurnal “Body Composition, Dietary Intake and Estimated Energy Expenditure in Female Patients on Geriatric Rehabilitation Wards”, dibahas untuk menguji komposisi tubuh dengan metode yang berbeda, untuk menyelidiki jumlah asupan gizi, untuk menghitung jumlah energy yang dikeluarkan oleh wanita lansia di panti rehabilitasi, serta untuk menggolongkan apakah lansia pada panti rehabilitasi tersebut gizinya telah mencukupi atau berada dalam resiko kekurangan gizi.

Hasil penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki komposisi tubuh, asupan makanan dan perkiraan energi yang keluar pada wanita yang lebih tua dalam rehabilitasi geriatrik klinik. Sampel dari pasien diselidiki mewakili pasien wanita geriatri yang dirawat di dua bangsal yang memiliki diet rumah sakit biasa. Mereka memiliki diagnosa yang berbeda dan variasi lamanya tinggal di rumah sakit dalam sampel. Komposisi tubuh sangat bervariasi pada populasi lanjut usia.

Biasanya, BMI<18.5 atau </20.0 dan berkurangnya berat  5% atau lebih selama beberapa bulan terakhir yang dianggap sebagai faktor risiko gizi buruk. Nilai BMI antara 24 dan 29 juga telah disarankan sebagai nilai normal untuk orang tua dari 65 tahun. Nilai rata-rata pada penyelidikan saat ini 23.7 dan sembilan dari 19 subyek memiliki BMI nilai di bawah 24, yang menunjukkan bahwa ada subyek yang beresiko kemungkinan kekurangan gizi atau yang sudah kekurangan gizi. Setiap pasien memiliki asupan harian rata-rata dari tujuh obat  yang berbeda, suplemen tidak termasuk. Jensen et al. menunjukkan bahwa usia tua, kehilangan nafsu makan, depresi dan asupan harian lebih dari tiga obat merupakan faktor risiko kuat untuk malnutrisi. Sembilan pasien melaporkan kehilangan nafsu makan selama tahun lalu, dan 10 pasien melaporkan bahwa mereka telah kehilangan berat badan. Ketika definisi yang disarankan oleh Jensen et al. digunakan, empat pasien diklasifikasikan sebagai kurang gizi, karena mereka memiliki BMI value B<20 dan asupan harian lebih dari tiga obat. Lima subjek diklasifikasikan berada pada risiko gizi buruk, karena mereka memiliki BMI valueB<24 dan asupan harian lebih dari tiga obat. Tidak ada metode yang tepat untuk mengukur tinggi lansia yang mengalami osteoporosis dan kyphosis. Sulit untuk mengukur tinggi dalam kelompok ini,karena beberapa persoalan tidak mampu berdiri dalam posisi tegak dan beberapa telah bungkuk punggung. karena itu tinggi tujuh partisipan diukur pada tempat tidur.

 

 

Mereka menemukan bahwa perempuan berusia 75 tahun memiliki persentase lemak tubuh 34,1±6.1 diukur dengan BIA. Hasil dari BIA di penelitian ini lebih tinggi dari yang disarankan nilai referensi. Metode untuk mengukur komposisi tubuh tidak dirancang untuk wanita dirawat di rumah sakit lansia. Reilly et al. Dalam penelitian terbaru persentase lemak tubuh dan lemak bebas massa dari BIA berkorelasi baik dengan model empat-kompartemen. Empat variabel biokimia diukur. Dalam 63% dari subyek, tiga atau empat dari variabel-variabel berada di bawah nilai referensi. S-albumin di bawah ini 35,0 g l–1 dapat menjadi indikator kekurangan gizi, karena tingkat rendah S-albumin mungkin menunjukkan rendahnya asupan protein. Namun, tingkat rendah menunjukkan proses katabolik yang sedang berlangsung, dan satu harus selalu mempertimbangkan apakah subjek memiliki insufisiensi jantung, penyakit paru, hati kegagalan, atau infeksi atau peradangan: S-albumin penurunan kondisi. Pada saat ini studi, dua mata pelajaran memiliki peradangan yang sedang berlangsung atau infeksi: satu orang sepsis dan yang lainnya memiliki infeksi saluran kencing.

Kehilangan nafsu makan adalah umum selama tingkat peradangan, dan rendah S-albumin karena itu merupakan prediktor tidak langsung untuk berada pada risiko dari kekurangan gizi. Semua mata pelajaran yang telah Salbumin rendah nilai, dan sekitar setengah dari mereka telah nafsu makan menurun. Sekitar sepertiga dari subyek memiliki tingkat rendah S-IGF-1 dan S-triiodotironin.S-IGF-1 mungkin cermin gizi yang lebih baik dari S-triiodothyronine. Ketika menganalisis S-IGF-1. Hasil dari variabel biokimia menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian ini beresiko kekurangan gizi.Semua subjek memiliki asupan rendah dari energi rekomendasi oleh NNR. Asupan energi rendah dibandingkan dengan penelitian. Tidak ada perbedaan antara asupan energi dan diperkirakan pengeluaran energi, dihitung dengan nilai PAL dari 1,2, ketika nilai rata-rata untuk kelompok tersebut dibandingkan. Ketika asupan energi setiap subjek adalah secara terpisah dibandingkan dengan pengeluaran energi dihitung, lebih dari setengah mata pelajaran yang lebih rendah asupan energi dibandingkan energi yang dikeluarkan, yang dihitung dengan faktor 1,2 PAL, terlepas dari Persamaan yang digunakan.

Ketika energi subyek asupan dibandingkan dengan pengeluaran energi dihitung nya dengan faktor PAL 1,4, dan dengan semua yang berbeda persamaan untuk BMR, lebih dari 79% dari subyek memiliki asupan energi bawah dihitung pengeluaran. Nilai PAL hanya 1,2 PAL untuk sangat tidak aktif atau bedbound orang. Persson dkk. juga menemukan nilai rata-rata PAL 1,2 pada geriatri panti jompo pasien. Subyek dalam Penelitian ini berada di bangsal rehabilitasi, dan pelatihan di tingkat yang berbeda dimasukkan. Sebagian besar pasien tidak bedbound, mereka naik dan berjalan. Sebuah PAL 1,4 mungkin akan menjadi lebih baik faktor digunakan untuk kelompok ini. Hal ini kemungkinan bahwa beberapa dari subyek mungkin memiliki tingkat PAL> 1.4, di hal mana defisit energi akan lebih lebih besar.

Rasio antara asupan energi dan BMR dihitung menunjukkan bahwa subjek memiliki lebih rendah asupan dari pengeluaran energi mereka yang sebenarnya. Pengeluaran energi dihitung sesuai dengan persamaan HB lebih rendah dari nilai dihitung dari persamaan SSJ dan dari dimodifikasi NNRequation. Tinggi, berat badan dan usia termasuk dalam persamaan HB, sedangkan berat hanya disertakan dalam persamaan SSJ. Persson dkk. mengkritik ini persamaan, dan menyarankan bahwa lebih baik untuk menggunakan persamaan dengan Westerterp et al. Namun, Taaffe et al. menyatakan bahwa persamaan HB masih dapat digunakan untuk wanita yang lebih tua. Persson dkk. divalidasi berbeda persamaan untuk BMR dengan penggunaan ganda berlabel metode air dan menemukan bahwa dimodifikasi

Persamaan NNR memprediksi pengeluaran energi total dalam jarak ± 10%. Pilihan nilai PAL tampaknya lebih penting daripada yang berbeda persamaan untuk memperkirakan pengeluaran energi. Underreporting ini biasa terjadi ketika menggunakan catatan makanan namun,sejak subyek dalam penelitian ini tidak mencatat asupan makanan mereka sendiri, kemungkinan underreporting minimal. Subyek dalam penelitian ini mungkin tidak mengubah pilihan mereka asupan makanan,yang umum bila menggunakan catatan makanan teknik, karena diet rumah sakit ditetapkan dan makanan ringan adalah sama untuk semua pasien di bangsal. Namun,hasilnya mungkin telah dipengaruhi oleh pengamat kehadiran ketika makanan yang dikonsumsi.Dibandingkan dengan NNR, persentase energi diperoleh dari karbohidrat lebih rendah dan persentase dari energi yang diperoleh dari lemak lebih tinggi. Lemak jenuh berada di atas, dan lemak tak jenuh di bawah rekomendasi. Asupan serat lebih rendah dari rekomendasi.

Asupan vitamin D, zat besi dan kalsium lebih rendah dari rekomendasi. Ketika vitamin tersebut dan asupan mineral dibandingkan dengan yang NNR persyaratan minimal untuk orang 15-50 tahun (Meskipun tidak ada persyaratan minimum yang diberikan untuk orang tua) intake lebih tinggi daripada persyaratan minimum. Asupan vitamin D sekitar setengah rekomendasi. Sangat sulit untuk mencapai asupan 10 µg dengan biasa makanan. Telah menyarankan bahwa vitamin D dan suplemen kalsium harus diberikan untuk lansia orang berisiko osteoporosis, dan mencegah osteoporosis. Salah satu hasil yang menarik dalam penelitian ini adalah bahwa subjek sendiri berpikir bahwa mereka memiliki asupan makanan yang cukup selama tinggal di bangsal, namun energi dan asupan nutrisi diamati di bawah pengeluaran energi dan gizi dihitung rekomendasi dalam setengah dari subyek. Hasil dari studi sebelumnya, di mana staf sikap diselidiki, menunjukkan bahwa beberapa dianggap porsi terlalu besar ukuran. Penelitian ini menunjukkan bahwa asupan energi subyek ‘itu tidak memadai.Sebagai kesimpulan, hanya satu dari subyek memiliki asupan energi yang memuaskan dibandingkan dengan dihitung pengeluaran energi, meskipun semua subjek mengira bahwa mereka memiliki asupan makanan yang cukup. Pada saat inistudi, empat mata pelajaran memiliki BMI value<20.0, sembilan memiliki value<24.0 dan sembilan melaporkan hilangnya nafsu makan. Empat subjek kekurangan gizi sesuai untuk mereka, BMI of<20 dan sisanya beresiko kekurangan gizi, karena energi mereka asupan tidak memadai.

 

  1. IV.             Faktor yang Mempengaruhi Kecukupan Gizi Wanita Lansia

Dalam pemenuhan kecukupan gizi pada lansia, akan timbul faktor yang mempengaruhinya. Sebagai penunjang pembahasan ini, digunakan jurnal yang berjudul “Factors Affecting Nutritional Adequacy Among Single Elderly Women”.

Dalam jurnal, dibahas bahwa tingkat ekonomi yang lebih rendah adalah masalah utama penyebab kelaparan dan ketidakcukupan makanan. Ekonomi yang rendah juga dapat menyebabkan kuantitas dan kualitas dalam membeli makanan, kecuali jika porsi anggaran belanja untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan obat-obatan ditingkatkan. Pendapatan yang rendah tidak hanya dapat membatasi kuantitas tetapi jugu kualitas gizi dari makanan yang dibeli. Pendapatan yang rendah juga dapat mengurangi kebiasaan konsumen untuk mengganti makanan yang diproduksi di pasar dengan makanan yang dimasak di rumah. Tingkat pendidikan yang rendah juga berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan gizi pada lansia.

Suplemen vitamin dan mineral dapat mengganti beberapa gizi yang kurang pada lansia. Penduduk Kanada yang berumur 65 sampai 74 mengira bahwa suplemen vitamin C digunakan sebagian gender khususnya wanita sedangkan laki-laki memilih suplemen kalsium. Secara umum, peningkatan penggunaan suplemen dapat memenuhi kebutuhan gizi dan  menghilangkan bahaya kekurangan vitamin A, vitamin B12, folacin, dan zinc  secara signifikan.

Perempuan sangat rentan terhadap ketidakcukupan makanan terutama pada populasi lansia. Kenyataannya, kehidupan wanita lebih panjang karena mereka suka merubah pengalaman hidupnya dengan mengurangi kuantitas dan kualitas kebutuhan makanan. Menurut penelitian, masalah kesehatan beerhubungan dengan tercukupinya gizi dan area pedesaan. Area pedesaan bermasalah dengan transportasi untuk memperoleh makanan sehingga bahan makanan susah tercukupi. Kebutuhan gizi pada wanita lansia tidak berpengaruh pada area pedesaan atau tidak, tetapi berhubungan dengan status kesehatan, kelakuan, cara memperolah dan mengolah makanan, serta karakter demografi dalam memperoleh makanan tersebut.

 

 

Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa pada sampel dari penduduk desa dan bukan penduduk desa lebih mirip satu sama lain. Hampir 90% responden baik penduduk desa maupun bukan tidak menerima pembagian makanan dan tidak dipekerjakan. Mengenai sikap dan perilaku yang berkaitan dengan pembelian dan persiapannya, keduanya baik responden penduduk desa maupun bukan telah menunjukkan pentingnya gizi, rasa dan makanan yang tidak rusak. Sebagian dari setengah kelompok tidak begitu menganggap penting tentang penyiapan makanan, tetapi 90% dari masing-masing kelompok sudah mau melakukan persiapan makanan. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa partisipan ingin mencukupi kebutuhan pangannya tetapi relatif rendah sumber perekonomiannya.

Nilai persentase gizi menurut RDA seperti yang sudah diamati didapat bahwa pada penduduk desa lebih rendah dibandingkan dengan bukan penduduk desa. Dari hasil survey diketahui bahwa kandungan gizi pada lansia wanita penduduk desa dan bukan penduduk desa tidak begitu berbeda jauh. Ini disebabkan oleh rendahnya perekonomian yang keadaannya hampir sama sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam mencukupi gizinya. Oleh karena itu, konsumsi multivitamin ataupun multimineral masih dilakukan untuk mencukupi kebutuhan gizi para lansia itu.

 

 

  1. V.                Menu Harian untuk Lansia

Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk lansia yang sehat, menu sehari-hari hendaknya : (1). tidak berlebihan, tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan persyaratan kebutuhan lansia. (2). bervariasi jenis makanan dan cara olahnya; (3). membatasi konsumsi lemak yang tidak kelihatan (menempel pada bahan pangan, terutama pangan hewani); (4). membatasi konsumsi gula, dan minuman yang banyak mengandung gula; (5). menghindari konsumsi garam yang terlalu banyak, merokok dan minuman alkohol; (6). cukup banyak mengkonsumsi makanan berserat (buah-buahan, sayuran dan serealia) untuk menghindari sembekit atau konstipasi, dan (7). minuman yang cukup.

Susunan makanan sehari-hari untuk lansia hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makan, serta disesuaikan dengan keadaan pisikologisnya. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (lihat Tabel 4.), dan menu makannya dapat disesuaikan dengan ketersediaan dan kebiasaan makan tiap daerah.

Menu makanan lansia dalam sehari dapat disusun berdasarkan konsep “empat sehat lima sempurna” atau konsep “gizi seimbang”. Sebagai contoh menu berdasarkan “empat sehat lima sempurna” terdiri atas kelompok makanan pangan pokok (utama) yaitu nasi (1 porsi = 200 gram), kelompok lauk pauk misalnya daging (1 potong = 50 gram) atau tahu (1 potong = 25 gram), kelompok sayuran misalnya sayur bayam (1 mangkok = 100 gram ), kelompok buah-buahan misalnya pepaya (1 potong = 100 gram) dan susu ( 1 gelas = 100 gram). Pola susunan makan lansia dalam sehari berdasarkan empat sehat lima sempurna tersebut dapat dilihat pada Tabel 5. Masing-masing kelompok makanan tersebut dapat diganti atau ditukar sesuai dengan kebiasaan makan dan ketersediaan pangan di tempat (akan diuraikan kemudian).

Sedangkan berdasarkan konsep “gizi seimbang”, contoh menu lansia dalam sehari disajikan pada Tabel 6. Menu ini disusun berdasarkan kecukupan energi dan gizi bagi lansia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *